Bali Overview Accommodation Dining Travel MICE Trading Art Galleries Fashion Textile Adventure Jewelry Advertise Others Contact
 
Play Group  
Kindergarten  
Elementry/Junior High School  
High School  
College  
University  
Courses & Degrees  
International School  
Folks Tale  
Story  
Others  
 
All About Bali  
Useful Info  
Company Info  
Site Map  
Advertise  
Contact  
Help  
Home  
Home > Education > Story > Belajar Sendiri
 
Belajar Sendiri
 

Konfusius jarang bercerita mengenai masa kecilnya tapi pernah sekali dia berkata, “Ketika saya masih muda, kami sangatlah miskin. Mungkin itu sebabnya saya belajar melakukan banyak pekerjaan aneh seperti seorang buruh.

Meskipun tingginya hampir 2 meter dan tubuhnya sangat kuat, Konfusius tidak ingin mengikuti jejak ayahnya menjadi seorang prajurit, pekerjaan yang paling bergengsi pada masa itu, karena dia tidak tertarik pada dunia militer.

Dia adalah seorang pemikir. Dia tidak pernah mengenyam pendidikan formal, tetapi dia menyukai buku, terutama buku mengenai kebijaksanaan raja-raja bijaksana dari masa lampau yang memerintah tidak dengan kekerasan tetapi dengan kebijaksanaan. Dia sering mengutarakan bagaimana orang menikmati hidup dalam kedamaian dan kejayaan pada awal dinasti Zhou.

Ketika saya berusia lima belas tahun,” katanya, “saya memusatkan pikiran saya kepada belajar. Pernah seharian saya berpikir tanpa makan dan berpikir semalaman tanpa tidur, tapi tidak mendapatkan apa-apa. Maka saya memutuskan untuk belajar.

Jelaslah bahwa ketekunan dan keteguhan hatinyalah yang membuatnya menjadi guru, pemikir, dan filsuf terbesar dalam sejarah China.

Melalui belajar sendiri, Konfusius melatih dirinya menjadi ahli di bidang sosial, matematika, seni panah, seni menunggang kuda, musik dan etika, enam hal yang dianggap sebagai syarat utama menjadi seorang pria sejati pada saat itu.

Contohnya musik. Konfusius sangat senang akan musik, dapat bernyanyi dan memainkan kecapi. Dia yakin bahwa musik dapat memberi pengaruh baik ataupun buruk pada pikiran dan karakter seseorang, dan bahkan pada masyarakat secara keseluruhan.

Ketika kamu melihat gaya tari-tarian dan musik suatu negara,” katanya, “kamu secara garis besar akan mengetahui karakter suatu negara.”

Pada suatu hari dia mendapat kesempatan untuk mendengar paduan suara para penyanyi buta dari ibu kota dinasti Zhou, yang sekarang ini menjadi kota Luoyang, di Propinsi Henan. Dia sangatlah terpesona dengan musik itu sampai dia berkata bahwa ia dapat melupakan rasa daging selama tiga bulan. Setelah peristiwa itu, dia mempunyai perasaan khusus terhadap orang buta, sering kali membantu mereka dan memberi hormat pada mereka meskipun mereka tidak dapat melihatnya.

Konfusius mempelajari musik dari seorang ahli musik hebat terkenal dari negara Lu.

Kamu dapat bermain dengan baik sekarang,” suatu hari guru musik itu berkata kepadanya setelah dia berlatih sebuah komposisi musik kuno dengan kecapi selama sepuluh hari. “Mari coba sesuatu yang lain.” “Tidak, Guru,” kata Konfusius. “Saya telah belajar melodinya tapi belum mempelajari ritmenya.

Beberapa latihan kemudian gurunya berkata: “Sekarang kamu telah menguasai ritmenya. Kita dapat mencoba yang lain.” “Tidak,” tolak Konfusius. “Saya belum mendapatkan semangatnya.”
Setelah beberapa saat, guru musik mengatakan bahwa dia sudah cukup berlatih. “Belum. Saya masih mencoba mendapatkan perasaan seperti apa karakter si penulis lagu.

Maka dia bermain lagi dan lagi. Kadangkala musik itu terdengar begitu lembut dan penuh perasaan, kadang kala riang dan hidup. Guru musik itu sangat puas.

Beberapa hari kemudian, ketika Konfusius memainkan komposisi musik yang sama, wajahnya tiba-tiba menjadi cerah.
Guru, saya menemukannya!” teriaknya sangat senang. “Saya menemukan siapa dia. Dia adalah seorang yang tinggi, besar, dan berkulit kehitaman. Ada sesuatu yang tidak biasa padanya. Dia mempunyai hati yang ingin menjangkau seluruh dunia. Dia pasti Raja Wen yang mendirikan dinasti Zhou enam ratus tahun yang lalu.”

Guru musik itu sangat kagum dengan insting musik Konfusius. Secara suka rela dia memberi hormat dua kali ke muridnya.

Ya, kamu benar!” katanya. “Guruku memberitahu saya bahwa komposisi musik itu memang dibuat oleh Raja Wen.

Pada saat dia kemudian menjadi guru, Konfusius memasukkan musik sebagai bagian dari mata pelajarannya.

Suatu hari Konfusius sedang bermain kecapi di kamarnya. Dua orang muridnya, Zigong dan Zeng Shen, mendengarkan dari luar. Tiba-tiba Zeng Shen merasakan sebuah nada sumbang dari musik yang bukan karakteristik Konfusius. Ketika Zigong memberitahu Konfusius mengenai komentar Zeng Shen, ia tertawa.

Shen mempunyai telinga yang peka,” katanya. “Saya melihat seekor kucing mengejar seekor tikus. Karena saya tidak suka melihat bahwa tikus itu larinya lebih cepat dibanding kucing, saya ingin sekali membunuh tikus itu. Saya merasakan hasrat pembunuh dalam diri saya saat itu. Perasaan itu pasti tercetus dalam musik.

 
Prev | Next
 
Komentar: Tidak seorang pun mempunyai pengaruh yang lebih besar dalam kehidupan, pikiran, dan bahasa masyarakat China seperti halnya Konfusius. Namun, dengan berjalannya waktu, Konfusius menjadi jauh dan aneh, kadang kala bahkan tidak simpatik. Untuk lebih memahami ajarannya, saya akan melihat kembali ke sejarah untuk mencoba menemukan seperti apakah Konfusius itu sebenarnya.
Cerita-cerita berikut adalah mengenai Konfusius, namun lebih tertuju kepada kehidupannya daripada filosofinya.
 
Konfusius, 551-479 S.M
Pelajari Kebenaran di pagi hari, dan matilah dengan bahagia di malam hari.
 
Taken From Michael C. Tang Book
Kisah-Kisah Kebijaksanaan China Klasik - Refleksi Bagi Para Pemimpin
 
Copyright © 2005-2024, Bali Directory Designed and Managed by bali3000