Bali Overview Accommodation Dining Travel MICE Trading Art Galleries Fashion Textile Adventure Jewelry Advertise Others Contact
 
Play Group  
Kindergarten  
Elementry/Junior High School  
High School  
College  
University  
Courses & Degrees  
International School  
Folks Tale  
Story  
Others  
 
All About Bali  
Useful Info  
Company Info  
Site Map  
Advertise  
Contact  
Help  
Home  
Home > Education > Story > Berlayar di Bawah Warna Palsu
 
Berlayar di Bawah Warna Palsu
 
Pada zaman dinasti Ming, seorang pelajar bernama Wang tinggal di Huanggang, sebuah kota dekat kota yang saat ini disebut Wuhan. Dia berasal dari keluarga yang kaya dan mempunyai selusin pelayan di rumahnya. Sebagai seorang yang ramah dan pandai, Wang senang bepergian dengan kekasihnya, Huifeng, seorang wanita yang sangat menarik yang mempunyai kesenangan yang sama dengannya, yaitu menunggang kuda dan memanah.

Pada suatu hari Wang dan Huifeng berjalan-jalan di Yueyang, sebuah tempat yang terkenal akan keindahannya di Propinsi Hunan, China bagian tengah. Setelah mengelilingi Danau Dongting dan Menara Yueyang yang terkenal, mereka berlayar dengan sampan untuk melakukan perjalanan pendek ke kaki Gunung Jun yang legendaris di mana mereka dapat mengunjungi kuil kuno. Kemudian mereka pergi ke Teras Kaisar Kuning dekat gunung tersebut, di tempat yang strategis, untuk menikmati panorama pemandangan alam yang menakjubkan. Di dekat mereka, di gunung itu bertebaran tanda-tanda kuno dari permulaan kebudayaan China. Di kejauhan ombak dari sungai seakan-akan memukuli langit; warna dari sungai dan langit berbaur dengan harmonisnya. Itu adalah pemandangan yang sangat mempesona. Sepasang kekasih itu sangat terpukau.

Tiba-tiba mereka menyadari seseorang yang sangat besar berjalan menuju ke arah mereka dari bawah gunung. Orang itu memandang Huifeng lekat-lekat. Ketika keduanya berjalan menjauh, dia mengikuti mereka. Wang dan Huifeng merasa cemas dan berlari secepatnya menuruni gunung. Ketika mereka hampir naik ke sampan mereka, orang itu, tepat di belakang mereka, bersiul. Tiba-tiba selusin orang muncul dari sampan-sampan yang lain.

“Bawa wanita itu untuk menghadap ketua,” orang itu berteriak, menunjuk ke Huifeng. Mereka meloncat, merampas Huifeng dari tangan kekasihnya, mendorongnya masuk ke dalam sampan mereka, dan berlayar menjauh dengan kecepatan penuh.

Wang hanya dapat memandang dengan perasaan tertekan. Semuanya terjadi dalam waktu yang sangat singkat.

Dia tidak mengetahui ke mana mereka membawanya, tetapi dia bertekad untuk mendapatkannya kembali. Dia kemudian beraksi. Dia mengirim pelayannya untuk bertanya-tanya ke seluruh kota dan pasar di daerah itu. Sementara itu, dia juga menawarkan hadiah sebanyak seratus ons emas kepada siapa pun yang dapat memberikan informasi tentang di mana lokasi Huifeng. Pengumuman mengenai hal itu ditempel di mana-mana.

Beberapa hari kemudian, Wang tiba di Wuhan, ibu kota propinsi Hubei di mana tinggal komisi militer lokal, Jenderal Xiang, seorang temannya. Xiang mengundangnya ke Menara Burung Bangau Kuning yang terkenal yang terletak di puncak bukit di barat daya Wuhan untuk menikmati pemandangan yang indah, tetapi Wang tidak mempunyai hasrat untuk menikmatinya. Dia sangat mengkhawatirkan keselamatan Huifeng. Air mata mengalir di pipinya tanpa disadarinya.

Dia baru hendak memberitahu Jenderal tentang apa yang terjadi, ketika pengawal Jenderal berkata: “Saya mendengar bahwa kekasihmu diculik, Tuan.”

“Bagaimana kamu mengetahuinya?” tanya Wang.

“Saya melihat poster yang anda tempelkan. Jangan kuatir. Saya tahu di mana dia berada.”

“Sungguh? Mohon tolonglah aku!”

“Saya tinggal di dekat Gunung Helu dan saya mengetahui sesuatu tentang kawanan penyamun di sana. Ketua penyamun itu adalah Ke Chen. Dia dan adiknya terlibat penyelundupan dan perbuatan ilegal lainnya. Gang mereka adalah yang terbesar di antara gang penyamun yang lain di daerah danau itu. Saya mendengar pada suatu hari bahwa mereka telah menculik seorang gadis cantik di Danau Dongting. Ke Chen sangatlah senang sehingga hendak menyelenggarakan sebuah pesta besar untuk merayakannya. Saya menebak bahwa gadis cantik itu adalah kekasih anda.”

“Ke Chen ini berbeda dengan pelanggar hukum lainnya.” Jenderal Xiang berkata. “Dia bukanlah seorang yang bengis dan dia mempunyai sopan santun. Dia mengetahui semua orang di pemerintahan daerah, punya hubungan baik, dan sering membantu pihak berwenang di daerah itu. Sangat sulit untuk menahannya dengan paksaan. Jika gadismu memang diculik oleh gang penyamun ini, saya pikir kamu mungkin harus merelakannya dan melupakan masalah ini. Masih banyak gadis cantik lainnya.”

“Bagaimana kamu dapat mengatakan hal ini?” Wang sangatlah marah. “Saya bukanlah seorang pria sejati kalau merelakan gadis saya diculik dan tidak mencoba untuk menyelamatkannya. Saya harus menemukannya.”

“Kamu harus tahu bahwa itu bukanlah hal yang mudah,” kata Jenderal Xiang. Pada keesokan harinya Wang membayar pengawal itu lima puluh ons emas untuk informasi yang diberikannya dan berjanji akan memberikan sisanya lima puluh ons lagi segera setelah dia menemukan Huifeng. Dengan izin Jenderal Xiang, Wang menyewa pengawal itu sebagai pemandu.

Dia kemudian secara resmi mengirim petisi kepada pemerintah setempat, meminta mereka untuk mengambil tindakan melawan Ke Chen dan gangnya.

“Mereka adalah orang-orang yang sangat susah diajak berunding,” kata kepala polisi ketika dia mendengar nama Ke Chen. “Saya tidak yakin bahwa kita bisa melakukan apa-apa terhadapnya. Jika kita mengirim pasukan bersenjata ke sana, pasti akan terjadi pertempuran berdarah.”

“Saya tidak berharap kamu mengirim pasukan ke sana,” jawab Wang. “Yang saya inginkan adalah surat penangkapan dari kamu. Saya tidak menginginkan bantuan orang lain. Saya akan ke sana sendiri untuk berunding dengannya untuk melepaskan kekasih saya. Tidak akan ada pertempuran.”

Kepala polisi itu tidak yakin, tetapi dia mengeluarkan juga surat tahanan dan menyerahkannya ke Wang.

Wang kembali ke Jenderal Xiang.

“Saya membawa surat pernyataan resmi dari pemerintah untuk bertindak melawan gang Ke Chen. Sekarang saya membutuhkan bantuan anda,” katanya.

“Tetapi saya tidak akan mengirim pasukan ke sana.” “Saya tidak meminta anda untuk melakukan itu. Saya ingin meminjam kapal pesiar resmi anda dan dua kapal patroli dilengkapi dengan bendera dan seragam pemerintahan. Saya tidak membutuhkan pasukan. Saya hanya akan membawa pengawalmu yang mengetahui lokasi penyamun itu.”

“Apa yang hendak kamu lakukan?”

“Saya akan memberitahumu ketika misi saya sudah selesai.”

Jenderal Xiang menyerah dan meminjamkan kapal pesiar resminya dan kapal patrolinya kepada Wang. Wang menyuruh selusin pelayannya memakai seragam pemerintahan dan menempatkan dirinya sebagai komandan pasukan daerah yang baru. Sebuah lambang bertuliskan nama dan gelarnya dipasang di depan kapal. Kemudian mereka berangkat menuju Gunung Helu.

Sebelum mereka sampai di Gunung Helu, Wang mengirim dua dari orangnya dan pengawal Jenderal Xiang untuk memberitahu pejabat setempat akan kedatangannya. Dia juga memberitahu Ke Chen bahwa dia ingin menemuinya.

Ke Chen tinggal di daerah pedesaan. Dia merasa tersanjung ketika dia diundang oleh komandan pasukan daerah yang baru. Ketika perahu Wang tiba, dia dan orang-orangnya datang ke pelabuhan dan bergabung dengan pejabat setempat untuk menyambut kedatangan komandan pasukan daerah yang masih muda itu.

Wang, berpakaian seragam pemerintahan dari sutra berwarna merah, bersikap sangat meyakinkan. Ketika upacara penyambutan sudah usai, dia memerintahkan utusannya untuk pergi ke tempat Ke Chen.

Ke Chen menyambut Wang dengan hangat. Makan malam dipersiapkan untuk menghormati Wang. Ke Chen dan anggota gangnya sangat menghormati komandan pasukan yang baru, karena kunjungannya dapat menaikkan derajat mereka di pemukiman setempat. Karena banyak minum, Wang dan Ke Chen dengan cepat bisa bercakap-cakap seperti layaknya teman baik.

“Jika anda mempunyai kesulitan di sungai, Tuanku, panggillah kami. Kami akan melakukan yang terbaik untuk menolong anda,” kata Ke Chen.
Wang menerima tawarannya dan tetap bersama Ke Chen sampai larut malam. Keesokan harinya Ke Chen mengundangnya lagi. Setelah itu, Wang meminta Ke Chen dan anggotanya untuk datang menghadiri jamuan balasan yang diselenggarakan di kapal pesiarnya.

Sebuah jamuan makan malam yang luar biasa diadakan di atas kapal pesiar, sesudah itu dilanjutkan dengan pertunjukan drama. Ke Chen dan orang-orangnya belum pernah melihat pertunjukan seperti itu sebelumnya. Mereka sangat terpesona. Ketika mereka sedang melihat opera, Wang memerintahkan orangnya untuk mengangkat jangkar. Perahu mulai bergerak dengan cepat, tapi tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Arus sungai sangatlah kencang. Baik Ke Chen maupun orangnya tidak menyadari apa pun. Ketika pertunjukan telah usai, perahu telah berlayar beberapa mil menyusuri sungai.

Wang mengundang mereka untuk kembali ke meja perjamuan.
“Saya sangat senang mengundang kalian kemari malam ini,” dia mengumumkan. “Ada sesuatu yang saya hendak rundingkan dengan anda. Saya memohon bantuan anda.”

“Apa yang dapat saya lakukan untukmu, Tuanku?” tanya Ke Chen.

Wang mengeluarkan surat penangkapan resmi dan menunjukkannya kepada Ke Chen.

“Seorang pria muda bernama Wang membuat petisi ini melawan anda. Dia menuntut kamu dan orang-orangmu yang telah menculik kekasihnya. Apakah ini benar?”

Ke Chen dan saudaranya saling memandang satu sama lain.

“Ya, ada seorang gadis bernama Huifeng,” Ke Chen mengakuinya. “Kami membawanya beberapa hari yang lalu dari Danau Dongting. Dia mengatakan bahwa dia berasal dari keluarga Wang. Dia sekarang ada di tempatku.”

“Seorang wanita bukanlah masalah,” kata tuan rumah. “Tetapi Tuan Wang ini bukanlah orang biasa. Dia mempunyai banyak pengaruh. Dia bermaksud untuk mengangkat kasus ini ke pemerintah supaya orang-orang yang menculik kekasihnya ditangkap semua. Dia sudah mengirim petisi resmi ini ke yang berwenang. Surat perintah penangkapan ini telah diberikan ke saya oleh atasan saya untuk diproses. Bagaimanapun juga, saya mengenal anda, saya tidak ingin menggunakan kekerasan. Maka saya mengundang anda untuk menemui atasan saya besok. Saya kuatir anda harus berhadapan dengan Tuan Wang di pengadilan.”

Ke Chen dan saudaranya tertegun.

“Apa? Kamu menginginkan kami mendekam dalam penjara!” Mereka ingin turun dari kapal, tapi mereka menyadari bahwa mereka berada di tengah-tengah sungai, jauh dari Gunung Helu. Mereka menyadari bahwa mereka telah terjebak.

“Mohon bantulah kami,” pinta Ke Chen.

“Sekarang ini, jika kamu menolak untuk menemui pimpinan saya, kamu memberi saya masalah; tetapi jika kamu menemuinya, kamu yang mendapat masalah. Kita harus berpikir untuk mencari jalan keluar untuk menggagalkan petisi tersebut. Mungkin itu adalah satu-satunya jalan keluar.”
“Tetapi bagaimana?”“Sumber dari masalah ini disebabkan karena penculikan kekasih Wang. Dia sangat kuatir akan keselamatannya. Jika kamu dapat membawanya kemari, tuntutan ini akan dihapuskan. Saya jamin kamu tidak akan menghadapi tuntutan apa pun.”“Itu tidaklah sulit,” kata Ke Chen. “Saya akan menulis surat untuk membebaskan wanita itu dan membawanya kemari.”

“Jika demikian, lakukan itu sekarang! Lakukan dengan cepat.”

Ke Chen dengan segera menulis sebuah surat yang dialamatkan kepada penjaga rumah di rumahnya di Gunung Helu. Pesan itu dibawa kesana oleh orang Wang dengan kapal patroli. Sambil menunggu, Wang mengajak Ke Chen dan saudaranya untuk makan dan minum. Tetapi mereka terlalu gelisah untuk menikmati makanan maupun bir.

Menjelang subuh, kapal patroli itu kembali. Huifeng dikawal naik ke kapal pesiar dengan segera. Wang berterima kasih kepada Ke Chen dan saudaranya.

“Sekarang saya dapat melapor ke atasan saya. Kamu boleh pulang.”

Ke Chen dan orang-orangnya sangatlah lega bahwa krisis sudah berlalu. Mereka berterima kasih kepada Wang atas bantuannya. Baru saja mereka mau pergi, Wang menahan mereka.

“Temanku, apakah kamu ingin mengetahui siapa Wang itu?” Wang bertanya dengan tersenyum penuh misteri. “Dia berdiri tepat di depanmu. Tidak ada komandan pasukan daerah. Saya melakukan ini semua karena saya tidak dapat merelakan kekasih saya ditangkap. Sekarang dia telah kembali dengan selamat, saya harus berkata bahwa saya menikmati kebersamaan kita. Selamat tinggal.”

Ke Chen dan saudaranya memandang Wang dengan ekspresi seperti orang yang baru terbangun dari mimpi. Akhirnya mereka tertawa.

“Kamu menipu kami dengan sangat cerdiknya. Kamu adalah orang yang hebat! Kami menyukai keberanianmu.” Ke Chen memujinya. “Kami sangat menyukaimu. Ini adalah suatu kehormatan bagi saya bisa bertemu dengan anda. Saya harap dapat berjumpa denganmu lagi di lain kesempatan. Maafkan saya karena telah menculik kekasihmu. Saya sangat menyesali perbuatan saya.”

Tiap anggota dari gang Ke Chen mengambil beberapa perak dari kantong mereka, berjumlah lebih dari tiga puluh ons, untuk diberikan kepada Wang sebagai hadiah.

“Ini untuk gaun kekasihmu, mohon diterima.”

Wang menolak, tetapi mereka memaksanya untuk menerimanya. Akhirnya dia mengambil uang itu sebagai tanda persahabatan. Kapal patrolinya mengawal Ke Chen dan orang-orangnya sampai ke daratan, lalu mereka berpisah

.Huifeng sedang terisak-isak ketika Wang kembali.

“Jangan menangis, kekasihku. Kamu bersamaku lagi.”

Sepasang kekasih itu minum untuk merayakan pertemuan tersebut dan beristirahat sampai mereka tiba di Wuhan.

“Misi saya telah selesai,” Wang memberitahu temannya, Jenderal Xiang. “Sekarang saya ingin mengembalikan semua yang saya pinjam dari anda. Tanpa bantuan anda, Jenderal, saya tidak akan berhasil. Terima kasih sebanyak-banyaknya.”

Jenderal Xiang sangat kagum ketika dia mendengar keseluruhan cerita itu. “Dengan kecerdikan anda, anda dapat menjadi komandan pasukan yang sesungguhnya, teman.”

Wang memberikan lima puluh ons emas sisanya kepada pengawal yang sangat kagum atas keberanian dan kecerdikan Wang.
 
 
Komentar: Cinta membuat seseorang menjadi berani dan cerdik.
 
Vegetable Roots (abad ke-16)
"Hapuslah ketidakjujuran dengan ketulusan; kekejaman dengan kelembutan; dan kejahatan dan penipuan dengan harga diri dan perasaan hormat.".
 
Taken From Michael C. Tang Book
Kisah-Kisah Kebijaksanaan China Klasik - Refleksi bagi Para Pemimpin
 
Copyright © 2005-2024, Bali Directory Designed and Managed by bali3000