Bali Overview Accommodation Dining Travel MICE Trading Art Galleries Fashion Textile Adventure Jewelry Advertise Others Contact
 
Play Group  
Kindergarten  
Elementry/Junior High School  
High School  
College  
University  
Courses & Degrees  
International School  
Folks Tale  
Story  
Others  
 
All About Bali  
Useful Info  
Company Info  
Site Map  
Advertise  
Contact  
Help  
Home  
Home > Education > Story > Hari Hari Terakhir
 
Hari Hari Terakhir
 
Pada usia enam puluh delapan tahun, Konfusius diminta kembali ke negara Lu oleh penguasa baru negara itu, bangsawan Ai. Sang bangsawan bertanya tentang unsur-unsur utama untuk membentuk pemerintahan yang baik.

Pilihlah orang yang tepat,” kata Konfusius. “Jika kamu menempatkan orang yang jujur untuk memerintah orang yang tidak jujur, orang akan mempunyai kepercayaan terhadap pemerintahan. Jika kamu meletakkan orang yang tidak jujur untuk memerintah orang yang jujur, kamu akan kehilangan kepercayaan rakyat. Tetapi pertama-tama, kamu haruslah tidak tamak, maka bawahanmu tidak akan mencuri, meskipun kamu membayar mereka untuk melakukannya.

Pada saat itu, Konfusius sudah tidak lagi tertarik pada politik, meskipun beberapa dari muridnya menjadi menteri pemerintahan, duta besar, dan gubernur.

Saya tidak dapat merealisasikan ide-ide saya,” keluh sang guru besar. “Tetapi dapatkah saya meninggalkannya untuk generasi yang akan datang? Maka dia mendedikasikan seluruh waktunya untuk mengajar, menulis, dan mengedit karya-karya klasik kuno. Kecintaannya kepada musik tidak pudar. Dia mengumpulkan balada kuno dan puisi menjadi sebuah buku yang disebut Buku Nyanyian.

Yang paling menyedihkannya adalah murid favoritnya, Yan Hui, meninggal pada usia hanya empat puluh satu tahun.

Oh, Surga telah menghancurkan saya!” tangis Konfusius dengan sedihnya, karena dia bermaksud menjadikan Yan Hui penerusnya.Dia hampir menyelesaikan karyanya Kronologi Musim Semi dan Musim Gugur, penghitungan sejarah China yang meliputi periode seratus empat puluh tahun, ketika mendengar kabar bahwa murid favoritnya yang lain, Zilu, terbunuh di medan perang di negara Wei. Konfusius jatuh sakit.

Konfusius menyadari bahwa dia tidak mungkin hidup lama lagi. Mengingat masa lalunya, dia menyimpulkan hidupnya demikian:

Pada usia lima belas tahun, saya memutuskan untuk belajar; pada usia tiga puluh tahun saya menjadi yakin dengan tujuan hidup saya; pada usia empat puluh tahun saya terlepas dari keragu-raguan; pada usia lima puluh tahun saya memahami takdir; pada usia enam puluh tahun saya dapat mengetahui kebenaran dari kebohongan dengan mendengarkan orang lain; pada usia tujuh puluh tahun saya mengikuti kehendak hati saya tanpa mengabaikan norma-norma yang berlaku.

Dia menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengajarkan reformasi untuk menciptakan masyarakat lebih baik dengan didasari oleh kebijakan dan kebaikan. Dia mempunyai visi tentang negara yang ideal dimana penguasanya memberikan contoh tindakan yang benar bagi rakyat untuk diikuti, dengan sejumlah pejabat terdidik untuk menuntun sang penguasa dalam memerintah. Tapi sekarang dia menyadari bahwa dia telah gagal untuk mencapai apa yang dia harapkan.

Saya tidak menyalahkan Surga; saya tidak menyalahkan manusia,” kata sang guru besar. “Semua yang saya coba lakukan adalah untuk memperoleh pengetahuan sebaik mungkin dan saya memasang target yang tinggi. Mungkin hanya Surga yang dapat mengerti saya.

Tenggelam dalam kesedihannya, dia menangis dan membuat sebuah lagu dan bernyanyi bagi dirinya sendiri:

Gunung Tai sudah runtuh,
Sebuah pilar telah jatuh,
Oh, seorang filsuf,
Seperti rumput, kamu telah layu.

Itu adalah nyanyiannya yang terakhir. Dia meninggal tujuh hari kemudian setelah dia menulis lagu itu pada usia tujuh puluh tiga tahun. Dia dimakamkan di Qufu, Shandong. Banyak muridnya tinggal di samping kuburannya selama tiga tahun untuk berkabung. Zigong tinggal di sana selama tiga tahun lagi.
Ajaran Konfusius direkam di Analek. Kuburan dan kuilnya menjadi “mekah”-nya orang China.
 
Prev
 
Komentar: Tidak seorang pun mempunyai pengaruh yang lebih besar dalam kehidupan, pikiran, dan bahasa masyarakat China seperti halnya Konfusius. Namun, dengan berjalannya waktu, Konfusius menjadi jauh dan aneh, kadang kala bahkan tidak simpatik. Untuk lebih memahami ajarannya, saya akan melihat kembali ke sejarah untuk mencoba menemukan seperti apakah Konfusius itu sebenarnya.
Cerita-cerita berikut adalah mengenai Konfusius, namun lebih tertuju kepada kehidupannya daripada filosofinya.
 
Konfusius, 551-479 S.M
Pelajari Kebenaran di pagi hari, dan matilah dengan bahagia di malam hari.
 
Taken From Michael C. Tang Book
Kisah-Kisah Kebijaksanaan China Klasik - Refleksi Bagi Para Pemimpin
 
Copyright © 2005-2024, Bali Directory Designed and Managed by bali3000